Posted in Uncategorized

Senja

Sinar matahari saat senja begitu memesona. Siapapun pasti terpana dengan keindahan senja. Cahaya kuning kemerahaan atau merah kekuningan seolah-olah menenangkan jiwa raga. Sayang, waktunya tidak lama, bahkan tidak sampai satu jam. Hanya berlangsung beberapa menit, tapi sungguh berarti. Hati yang terluka seakan-akan sembuh, kesedihan seolah-olah hilang, masalah yang bertumpuk-tumpuk serasa ringan.

Seperti kamu.
Bagiku senja adalah kamu. Yang hadir di saat hati sudah terluka, sedih, dan masalah yang entah itu berarti atau tidak. Tapi sayangnya kamu hanya hadir sekejap, tidak lama. Bedanya bukan satu-dua jam. Tapi sebatas satu-dua bulan.

Senja hadir setiap hari untuk menebarkan senyum selamat tinggalnya. Sedih memang,  harus mengetahui dia akan pergi. Tapi aku bahagia jika aku bisa melihatnya besok dan seterusnya. Seperti kamu, aku senang jika aku bisa bercengkrama menghabiskan waktu istirahat bersamamu. Dan aku berharap, jika kita masih diizinkan betemu, mari kita tertawa dan membahas hal yang lucu, saling menasehati, berbagi ilmu.  Seperti waktu itu, yang sayangnya bukan saat senja. Tapi saat hujan siang hari.

Advertisements
Posted in Uncategorized

Keraguan yang Diragukan

 

Seringkali mereka bercerita kepadaku tentang masalah mereka, tentang perasaan mereka. Dan sebagai seorang teman, aku ya memberikan solusi, meskipun bukanlah solusi yang terbaik dan bagus. Tapi setidaknya, solusi itu yang aku tau.

Dari sekian banyak solusi yang aku katakan pada mereka, aku mulai ragu. Apakah yang aku katakan itu mereka pahami dan lakukan? Jika iya, alhamdulillah, jika tidak, ya sudahlah. Tapi aku mulai meragukan diriku sendiri. Apakah aku mampu melakukannya juga? Apakah aku mampu untuk mengatasi masalah-masalahku sendiri?

Nyatanya tidak untuk sekarang ini. Aku sangat butuh seseorang untuk bercerita, sandaran untuk beristirahat, dan penguat yang menyemangatiku. Ingin setiap saat aku menangis, tapi siapa yang akan menenangkan? Aku merasa lelah dan merasa sendiri setiap saat. Memang siapa yang peduli jika aku sendiri? Seolah diabaikan oleh sekitar, tapi hanya dibutuhkan jika hanya semenit-dua menit. Menit-menit lainnya? Diabaikan.

 

 

Posted in Uncategorized

Maret, Berakhirnya

Malam ini adalah malam keduabelasku di bulan Maret. Itu berarti tinggal beberapa hari lagi aku akan pergi. Musim di sini tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas. Kalau dilihat dari ilmu geografi yang kupelajari sewaktu SMP sih, bulan Maret bermusim hujan. Tapi, di beberapa tempat ada yang hujan, ada yang panas. Seperti emosi seorang gadis SMA yang alay saja. 

Maret.
Entah kenapa aku lebih sering memikirkan seseorang pergi. Aku melihat beberapa kecelakaan hari ini, saatn aku pergi ke tanah rantau. Bus yang terguling, truk yang saling bertabrakan, bahkan kendaraan yang tadi aku naiki juga hampir mengalami hal yang serupa bus malang itu. Sempat berpikir, yang akan pergi duluan siapa? Aku, atau mereka? Aku lebih merenung dan melihat ke luar jendela, meskipun aku hanya bisa melihat sebatas langit beserta awan yang berubah-ubah, menggantung. Aku tak menggubris apapun yang terjadi. Masa bodo, menurutku. Aku mencoba berimajinasi sebagaimana orang aneh berimajinasi.

Oh, lihat awan itu! Berubah-ubah bentuknya. Seketika aku membayangkan kalau itu berbentuk grey owl, beberapa menit kemudian berubah menjadi ombak. Di dekatnya ada bentuk hati yang tidak sempurna. Seakan-akan berubah menjadi serpihan debu, lalu berkumpul dengan sesama serpihan menjadi ombak yang indah. Tapi hati itu mati, berlahan-lahan diganti menjadi kelabu. Lalu dilupakan.

Tapi,
Apakah, kalau aku yang pergi dulu, aku akan seperti hati yang menjadi serpihan itu? Dilupakan. Hah, dasar bodoh! Memang siapa yang mau mengingatmu? Kau tidak berarti apa-apa. Kau sering melukai orang, memang kau punya hati?
Sekelebat awan kelabu saja bisa menghapus semua. Bagaimana dengan waktu yang terus melekat? Pasti dia sudah lihai mengambil alih.
Pada dasarnya, aku marah kepada mereka yang hadir. Mereka yang dekat, membagi suka dan duka, membagi cinta dan kasih, pergi satu persatu. Aku ditinggalkan. Dan aku marah kepada diriku yang tak bisa mencegah mereka untuk pergi. Kalau pun kepergian bisa ditukar, aku memilih pergi dulu, karena aku tidak akan merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan.

Posted in Uncategorized

Friends? We are Family!

Hello, folks! I am so sorry because I’m late to update my post. Actually, I am in a long holiday but a month ago I was in a place that made me busy, hehe. A month ago, I went to Pare untuk mengisi libur panjangku dan menghindari omelan mama di rumah. And fortunately, ada temenku yang ngajak ke Pare. Ke ELLA. Yaudah de, sekalian. Hehe.

Pare. Kampung Inggris. Suasananya asri, orang-orangnya ramah, mungkin aku akan betah di sini. Ya, meskipun pada malam pertamanya aku mendapatkan masalah dan itu sangat tidak menyenangkan, tapi aku berharap aku bisa nyaman di sini, paling tidak sampai study-ku selesai.

IMG-20180102-WA0058

Foto di atas adalah teman-teman sekelasku, bersama tentor yang memakai baju hitam-oranye. Foto itu diambil ketika selesai corat-coret muka gara-gara salah/ tidak bisa menjawab saat tebak-tebakan vocab. Haha, seru sekali! Ada yang sampai belepotan mukanya gara-gara banyak yang salah vocab-nya, ada yang tidak kena sama sekali (yang ini pasti dia sangat pintar!). Aku? Pastilah kena! Untungnya cuma sedikit, tidak sampai belepotan.

IMG-20180103-WA0052

Foto ini diambil di studio foto. Ya, ini juga foto teman satu kelasku, meskipun tidak full team. Oiya, ada cerita dibalik foto di studio ini. Ceritanya adalah SEPEDAKU KETUKER!!! Dan seketika aku panik! Tapi akhirnya ketemu juga kok.

IMG-20180119-WA0025

Dan foto ini adalah foto setelah farewell party. Foto tersebut adalah foto satu angkatan, yaitu ‘ELLA Fullday 73’. Sedikit, ya? Itu karena sudah banyak yang pulang duluan sebelum waktunya dan juga banyak yang tidak ikut farewell party karena (mungkin) ada suatu kepentingan :”) Sedih sekali tidak bisa foto full team. 

Aku sangat berterimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan teman-teman yang baik, peduli, asyik, dan membuatku betah selama di Pare. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tulis tentang mereka. Tidak akan ada habisnya aku menceritakan mereka. Yah, maybe di tulisanku yang lain. Hehe, see yaAnd, enjoy this! 

 

Thank you so much my loves, I hope we can together like that one day 🙂

 

Posted in Uncategorized

Aku Ingin Pulang (2)

Cahaya mentari menyapaku dengan malu-malu pagi ini. Yah, gimana mau nggak malu, wong  dia datang bersama awan kelabu. Hawa hari ini agak dingin. Sepertinya kota Surabaya ini sedang ditaburi beberapa kesejukan dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Di lantai paling atas tempat kos ku, aku berdiri sambil memandangi awan yang dapat bergerak bermil-mil jauhnya. Aku sempat iri padanya. Mereka dapat berjalan-jalan mengelilingi dunia, sedangkan aku tidak. Mereka dapat pulang ke peraduannya, sedangkan aku tidak. Aku tetap di sini memikirkan bagaimana keadaan keluargaku di sana. Bahkan sekarang saja aku jarang sekali beradu dan menyaut kata dengan mereka. Aku benar-benar rindu senyum dan kasih sayang mereka. Aku tau kalau mereka selalu mendoakanku nun jauh di sana. Meskipun itu bentuk kasih sayang yang tak langsung, tapi kasih sayangnya menguatkanku sampai detik ini, maupun nanti.

Setiap hari ku memohon. Setiap hari ku berharap. Aku ingin pulang. Sudah berat rasa rinduku ini. Aku tak peduli apa kata orang yang katanya aku lemah atau mungkin mereka berkata, “ah, kamu ini. Liat aku, dong! Rumahku jauh di (beda provinsi) tapi aku ya b aja nggak kayak kamu. Dasar lebay!”

I really don’t care how’s your feeling!

Yang jelas aku kangen rumah, kangen keluarga. Mungkin aku seperti anak kecil, tapi memang inilah aku. Aku nggak bisa jauh dari keluarga.

Ingin rasanya ku menangis. Meluapkan segala emosi yang menjadi beban hati ini. Meluapkan kekesalan yang menghantui. Agar rasa ini segera berkurang. Agar mereka mendengar bahwa aku merindukannya. Agar mereka tau bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.

Posted in journey, Uncategorized

Beda

Di dunia ini, tidak ada orang yang sama. Yang ada hanya orang yang hampir mirip, bukan sama. Manusia itu unik. Bahkan anak kembar yang identik saja punya beberapa perbedaan, entah itu fisik, psikis, watak, atau hal lainnya, meskipun seperti bulan yang terbelah menjadi dua.

Saat ini, angin berhembus dengan santai tetapi sangat dingin. Beberapa pohon di bawah sana tampak kegirangan dengan angin yang membawa kesejukan, karena setelah berhari-hari kemarin tak ada angin tak ada hujan. Yang ada hanyalah terik panas matahari. Imajinasiku mulai bermain dan tiba-tiba saja lamunanku buyar lantaran aku mengingat dirinya. Astaghfirullah. Kenapa harus sekarang? Aku malas sekali memikirkannya yang kian lama kian terlihat bersinar tetapi jauh. Dan aku hanya bisa mengagumi akan sinarnya.

Dia hebat, ya. Berwibawa, indah, positif, semangat, tegas, keren. Sedangkan aku? Aku hanyalah makhluk kecil yang selalu negatif, lemah, tak bisa berbuat apa-apa, penakut, plin-plan, nggak keren sama sekali. Kata orang, jika ingin menyukai seseorang, terlihatlah bahwa kamu punya kemampuan yang setingkat dengannya, atau lebih. Dari situ lah aku berusaha untuk menyejajarkan kemampuanku dengan kemampuannya yang sangat jauh dariku. Aku mengikuti beberapa jalan yang pernah kau lalui. Bukannya aku seorang stalker, loh yaaaa… Karena waktu itu aku tak tau harus melakukan apa, maka aku ingin mengikuti apa yang pernah dilaluinya. Anggap saja kalau dia adalah inspirasiku.

Lain dia lain pula aku. Rasanya aku tak cocok mengikuti jalannya meskipun jalannya akan membawa dampak yang sangat besar padaku dan itu sangat baik juga. Tapi rasanya aneh sekali ketika meniatkan sesuatu karena seseorang, bukan karena Allah. Rasanya seperti tak berimbas padaku dan hanya mendapat kelelahan dan buang-buang waktu saja. Ingin rasanya aku kabur lalu kembali pulang ke peraduan. Tapi aku nggak bisa. Aku teringat kata-kata ibuku bahwa untuk tidak lari dari masalah dan aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku sendiri.

Posted in Uncategorized

Aku Ingin Pulang

Assalamu’alaikum, folks!

Sudah lama sekali, ya, saya tidak pernah menulis di blog ini. Wkwkwk. Bukannya sok sibuk, tapi ya, lagi nggak tau apa yang mau saya tulis. Hehe. Sekarang saya telah menjadi mahasiswa, yey! Setelah berjuang siang dan malam, menghabiskan tenaga dan waktu. Ternyata benar ya, usaha tidak pernah mengkhianati hasil dan Tuhan selalu ada membantu kita 🙂

Now, saya tidak ingin sharing tentang bagaimana saya belajar untuk masuk ke perguruan tinggi. Tapi, ini adalah sebuah emosi jujur dari hati terdalam saya yang selama ini saya simpan emosi ini, hingga pernah membuat saya menangis.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sebagai mahasiswa baru, tentu saja semua pernah merasakan apa yang saya rasakan. Homesick. Yup, rindu akan keluarga di rumah Lumajang sana. Rindu dengan nyanyian burung, rindu dengan ketela kukus made by mom, rindu dengan kolam renang alami Selokambang yang biasanya aku renang di sana jam 6 pagi, dan suasana pedesaan agak kekotaan. wkwkwk. Tapi tentunya rindu dengan kasih sayang orang tua.  Kalo di kota perantauan, mah, tidak bisa aku temui mereka. Orang tua saya saja tidak bisa menjenguk saya entah karena apa. Bahkan papa saya melarang mama untuk menjenguk saya :”( Sedih ya

Tetapi, untungnya saya sempat pulang dua kali, yaitu ketika hari raya Idul Adha dan ketika H-1 ulang tahun saya meskipun lusanya saya masuk kuliah. Sebenarnya saat itu saya pulang karena saya berharap saya mendapatkan sebuah pelukan dari orang tua saya ketika saya ulang tahun. Alhamdulillah kesampaian. Hehe..

Jujur, saya iri kepada teman saya yang sering pulang. Bahkan pada awal masuk kuliah saja dia sudah sering pulang.
“Enak banget, ya, bisa pulang. Saya mah apa?! Jauh juga meskipun satu provinsi.”
Ndak e arek iki molehan le, jendes aku.”
Andai saja dia tau apa yang saya rasakan sekarang.”
Ya, kira-kira itulah yang sering saya ucapkan (dalam hati) dan membuat hati saya sedih. Kenapa sih?! Mereka bisa, tapi saya tidak bisa pulang. Waktu itu ada acara di fakultas saya. Kelompok saya semuanya tidak bisa hanya karena alasan ‘PULANG KAMPUNG’ oh f***! Saya juga ingin pulang, tau! Bukan kalian saja, kalian pikir saya tidak rindu keluarga?! Dan semenjak itu saya tidak berbicara kepada mereka sampai saya pulang kampung di minggu berikutnya.

Dan sekarang…………………..

Alhamdulillah tidak separah dulu saya wkwk. Kalau tidak pulang ya tidak apa. Sudah bisa mengatur emosi lah. Sudah capek ngambul terus wkwk.

 

NB : Hati-hati ya yang pulkam, bisa jadi ke-pulkam-an mu tidak disukai oleh orang lain sehingga dia menaruh dendam kepadamu.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Maaf jika mengandung kata-kata yang tidak sopan, karena ini curhatan yang pahit #eak

Kritik dan saran sangat dibutuhkan 🙂

Terimakasih.