Aku Ingin Pulang (2)

Cahaya mentari menyapaku dengan malu-malu pagi ini. Yah, gimana mau nggak malu, wong  dia datang bersama awan kelabu. Hawa hari ini agak dingin. Sepertinya kota Surabaya ini sedang ditaburi beberapa kesejukan dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Di lantai paling atas tempat kos ku, aku berdiri sambil memandangi awan yang dapat bergerak bermil-mil jauhnya. Aku sempat iri padanya. Mereka dapat berjalan-jalan mengelilingi dunia, sedangkan aku tidak. Mereka dapat pulang ke peraduannya, sedangkan aku tidak. Aku tetap di sini memikirkan bagaimana keadaan keluargaku di sana. Bahkan sekarang saja aku jarang sekali beradu dan menyaut kata dengan mereka. Aku benar-benar rindu senyum dan kasih sayang mereka. Aku tau kalau mereka selalu mendoakanku nun jauh di sana. Meskipun itu bentuk kasih sayang yang tak langsung, tapi kasih sayangnya menguatkanku sampai detik ini, maupun nanti.

Setiap hari ku memohon. Setiap hari ku berharap. Aku ingin pulang. Sudah berat rasa rinduku ini. Aku tak peduli apa kata orang yang katanya aku lemah atau mungkin mereka berkata, “ah, kamu ini. Liat aku, dong! Rumahku jauh di (beda provinsi) tapi aku ya b aja nggak kayak kamu. Dasar lebay!”

I really don’t care how’s your feeling!

Yang jelas aku kangen rumah, kangen keluarga. Mungkin aku seperti anak kecil, tapi memang inilah aku. Aku nggak bisa jauh dari keluarga.

Ingin rasanya ku menangis. Meluapkan segala emosi yang menjadi beban hati ini. Meluapkan kekesalan yang menghantui. Agar rasa ini segera berkurang. Agar mereka mendengar bahwa aku merindukannya. Agar mereka tau bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.

Advertisements

Beda

Di dunia ini, tidak ada orang yang sama. Yang ada hanya orang yang hampir mirip, bukan sama. Manusia itu unik. Bahkan anak kembar yang identik saja punya beberapa perbedaan, entah itu fisik, psikis, watak, atau hal lainnya, meskipun seperti bulan yang terbelah menjadi dua.

Saat ini, angin berhembus dengan santai tetapi sangat dingin. Beberapa pohon di bawah sana tampak kegirangan dengan angin yang membawa kesejukan, karena setelah berhari-hari kemarin tak ada angin tak ada hujan. Yang ada hanyalah terik panas matahari. Imajinasiku mulai bermain dan tiba-tiba saja lamunanku buyar lantaran aku mengingat dirinya. Astaghfirullah. Kenapa harus sekarang? Aku malas sekali memikirkannya yang kian lama kian terlihat bersinar tetapi jauh. Dan aku hanya bisa mengagumi akan sinarnya.

Dia hebat, ya. Berwibawa, indah, positif, semangat, tegas, keren. Sedangkan aku? Aku hanyalah makhluk kecil yang selalu negatif, lemah, tak bisa berbuat apa-apa, penakut, plin-plan, nggak keren sama sekali. Kata orang, jika ingin menyukai seseorang, terlihatlah bahwa kamu punya kemampuan yang setingkat dengannya, atau lebih. Dari situ lah aku berusaha untuk menyejajarkan kemampuanku dengan kemampuannya yang sangat jauh dariku. Aku mengikuti beberapa jalan yang pernah kau lalui. Bukannya aku seorang stalker, loh yaaaa… Karena waktu itu aku tak tau harus melakukan apa, maka aku ingin mengikuti apa yang pernah dilaluinya. Anggap saja kalau dia adalah inspirasiku.

Lain dia lain pula aku. Rasanya aku tak cocok mengikuti jalannya meskipun jalannya akan membawa dampak yang sangat besar padaku dan itu sangat baik juga. Tapi rasanya aneh sekali ketika meniatkan sesuatu karena seseorang, bukan karena Allah. Rasanya seperti tak berimbas padaku dan hanya mendapat kelelahan dan buang-buang waktu saja. Ingin rasanya aku kabur lalu kembali pulang ke peraduan. Tapi aku nggak bisa. Aku teringat kata-kata ibuku bahwa untuk tidak lari dari masalah dan aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku sendiri.

Aku Ingin Pulang

Assalamu’alaikum, folks!

Sudah lama sekali, ya, saya tidak pernah menulis di blog ini. Wkwkwk. Bukannya sok sibuk, tapi ya, lagi nggak tau apa yang mau saya tulis. Hehe. Sekarang saya telah menjadi mahasiswa, yey! Setelah berjuang siang dan malam, menghabiskan tenaga dan waktu. Ternyata benar ya, usaha tidak pernah mengkhianati hasil dan Tuhan selalu ada membantu kita 🙂

Now, saya tidak ingin sharing tentang bagaimana saya belajar untuk masuk ke perguruan tinggi. Tapi, ini adalah sebuah emosi jujur dari hati terdalam saya yang selama ini saya simpan emosi ini, hingga pernah membuat saya menangis.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sebagai mahasiswa baru, tentu saja semua pernah merasakan apa yang saya rasakan. Homesick. Yup, rindu akan keluarga di rumah Lumajang sana. Rindu dengan nyanyian burung, rindu dengan ketela kukus made by mom, rindu dengan kolam renang alami Selokambang yang biasanya aku renang di sana jam 6 pagi, dan suasana pedesaan agak kekotaan. wkwkwk. Tapi tentunya rindu dengan kasih sayang orang tua.  Kalo di kota perantauan, mah, tidak bisa aku temui mereka. Orang tua saya saja tidak bisa menjenguk saya entah karena apa. Bahkan papa saya melarang mama untuk menjenguk saya :”( Sedih ya

Tetapi, untungnya saya sempat pulang dua kali, yaitu ketika hari raya Idul Adha dan ketika H-1 ulang tahun saya meskipun lusanya saya masuk kuliah. Sebenarnya saat itu saya pulang karena saya berharap saya mendapatkan sebuah pelukan dari orang tua saya ketika saya ulang tahun. Alhamdulillah kesampaian. Hehe..

Jujur, saya iri kepada teman saya yang sering pulang. Bahkan pada awal masuk kuliah saja dia sudah sering pulang.
“Enak banget, ya, bisa pulang. Saya mah apa?! Jauh juga meskipun satu provinsi.”
Ndak e arek iki molehan le, jendes aku.”
Andai saja dia tau apa yang saya rasakan sekarang.”
Ya, kira-kira itulah yang sering saya ucapkan (dalam hati) dan membuat hati saya sedih. Kenapa sih?! Mereka bisa, tapi saya tidak bisa pulang. Waktu itu ada acara di fakultas saya. Kelompok saya semuanya tidak bisa hanya karena alasan ‘PULANG KAMPUNG’ oh f***! Saya juga ingin pulang, tau! Bukan kalian saja, kalian pikir saya tidak rindu keluarga?! Dan semenjak itu saya tidak berbicara kepada mereka sampai saya pulang kampung di minggu berikutnya.

Dan sekarang…………………..

Alhamdulillah tidak separah dulu saya wkwk. Kalau tidak pulang ya tidak apa. Sudah bisa mengatur emosi lah. Sudah capek ngambul terus wkwk.

 

NB : Hati-hati ya yang pulkam, bisa jadi ke-pulkam-an mu tidak disukai oleh orang lain sehingga dia menaruh dendam kepadamu.

 

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Maaf jika mengandung kata-kata yang tidak sopan, karena ini curhatan yang pahit #eak

Kritik dan saran sangat dibutuhkan 🙂

Terimakasih.

Dirundung Pilu

​Di sepanjang tangga yang turun

Di situ pula aku melihat 

Lelaki yang sedang turun

Melepaskan diri dari gelap terkelebat
Aku hanya bisa melihat 

Punggungnya yang tegap

Meski aku tak tahu 

Siapa yang dia cintai hari itu
Angin malam berhembus hingga menusuk kalbu

Hanya sekelebat bayangnya yang tersisa di malam itu

Menuju tuan putri cantik bersenandung merdu

Bersama sang pangeran yang gagah nan sendu
Lelaki itu

Menggenggam duri mawar hingga rusak

Darah berteteskan dari tangannya yang lusuh

Pulang dengan hati yang pilu
Aku melihatnya menangis

Aku hanya bisa melihatnya dari jauh

Julietnya telah dipinang oleh pangeran yang manis

Penantiannya telah luruh
Aku datang 

Mencoba manjadi cahaya purnama yang baru untuknya

Menjadi penghibur laranya

Hingga tak sakit lagi hatinya

Hello, School !

Hello for everyone ! It has been a long time I have not post here.

So, Indonesia, are you ready for coming to school next week ? What ? You need more holiday ? But you have gotten holiday for a month  and ten days more.

H-3 untuk masuk ke sekolah tercinta. Bertemu dengan teman-teman dimana kita bisa tertawa bersama dan berbagi emosi. Apalagi sebentar lagi aku akan bertemu dengan teman baru dari berbagai kelas. Yap, aku akan memasuki kelas baru dengan suasana yang lebih ekstrim. Kenapa ekstrim? Karena sebentar lagi aku akan bertempur dengan soal-soal yang lumayan banyak dengan berbagai jenis kegiatan yang sibuk.

Ya, aku akan memasuki kelas 12. Aku memasuki tahun terakhirku di SMA . Aku hanya berharap apa yang akan kulakukan di kelas 12 ini lebih baik dan aku tidak mudah untuk meremehkan apapun serta terlalu bergantung pada sesuatu.

 

Ied Mubarak, Minal Aidzin !

Hello !

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H bagi umat muslim semua. Semoga kita bisa memperbaiki diri dan menjadi yang lebih baik lagi. Aamiin.

Oh iya, maafkan ya kalau aku punya salah sama kalian-kalian. Karena manusia itu nggak luput dari kesalahan.

Aku merayakan hari raya ini di Pasuruan bersama dengan keluarga besar papaku. Alhamdulillah, uti (panggilan untuk nenek) baik-baik saja, dan hanya dia satu-satunya nenek yang aku miliki. Aku sudah tak punya kakek dari papaku sejak 6 tahun yang lalu.

Aku sholat ied di depan stadion Pasuruan dengan mobil bersama uti dan keluargaku. Padahal rumah utiku dekat dengan masjid, lho Katanya sih, sekalian jalan-jalan gitu. Setelah itu, kami pergi ke makam mbahkung (panggilanku untuk kakek). Dan ketika kami mengirimkan doa-doa dan bunga-bunga, aku melihat utiku, dia dengan wajah yang sedih. Mungkin dia sedang membayangkan saat-saat bersamanya dulu. Ah, indah nian cinta sejati itu, ya. Ketika kami ingin pindah ke makam yang lain (makam orang lain yang masih saudara) aku melihat utiku menangis. Menangis. Ingin rasanya aku menangis. Entah kenapa jika aku melihat seseorang menangis, aku jadi ingin menangis. Dan papa menyuruhku untuk menemani utiku sebentar.

Setelah itu, kami pun pergi. Kami merasa perut kami mulai keroncongan. Hmm, hari gini emang ada yang jualan? Kan ini hari besar. Masih pagi pula.

Eh, ternyata ada. Aku melihat ada yang jualan gado-gado. Waaa.. aku mauu. Tapi kami melewatinya. Yah, yaaahh… padahal itu ada gado-gado. Kenapa dilewati aja?

Dan akhirnya kami berhenti di depan sebuah warung yang menjual soto, dkk. Tak ada menu gado-gado di sana.  Ah, padahal aku pengen banget makan gado-gado (pengennya diet). Jadi, aku memutuskan untuk membeli gado-gado. Lagian, nggak jauh kok. Niatku sih,  aku langsung makan di tempat gado-gado itu. Tapi entah kenapa sama penjualnya malah dibungkus. Padahal aku nggak bilang mau dibungkus apa nggak.

Yaudah deh. Setelah kubayar, aku menuju warung dimana keluargaku makan. Dan aku “numpang” makan doang di situ. Terus aku juga memesan minuman air putih. Kan enak, gratis *jangan ditiru ya* hehe.

Setelah itu, kami pun langsung pulang. Sampai di sana, ada keluarga (tambahan) lagi dari Bangil. Mereka membawa makanan banyak. Tapi aku nggak makan. Karena aku masih berpegang dengan rencana dietku itu.

Setelah itu, kami semua saling sungkem-sungkeman, maaf-maafan, cium pipi kiri pipi kanan. Biasanya, kami tangis-tangisan. Tapi tahun ini-nggak. Ah, akhirnya. Setelah itu, kami pun pergi ke rumah saudara-saudara.

Sorenya, ketika aku duduk-duduk sambil ngemil kue-kue di depan. Hmm, gagal deh program dietku. Terus, papaku membeli beberapa camilan di swalayan. Makan juga deh. Gini mau minta tirus ? Haha in aja.

N.B : jangan niru adegan yang cuma numpang makan di warung ya, apalagi minumnya air putih. Kan gratis tuh. Pokok jangan, kalau kalian mau nggak malu-maluin keluarga kalian. Dan untuk siapa aja yang pengen diet, teruskan niatmu. Jangan kayak gue, ya.

Thank you and goodbye !

 

Let’s Dreaming

Well, many people are afraid of dreaming. But why ? Padahal bermimpi itu gratis loh, nggak bayar ! Aku pernah tanya ke temen-temen nih waktu itu kenapa sih mereka pada takut untuk bermimpi. Here it goes…

Banyak yang bilang ‘jangan terlalu banyak bermimpi atau akan menjadi akan belaka’ ada juga yang bilang ‘mimpi itu nggak penting, yang penting itu kerja, bukannya mimpi’

Memang, menurutku semuanya itu bener, tapi yang salah adalah cara kita menanggapinya. Bermimpi menurutku adalah suatu hal yang wajar bagi umat manusia. Dan bahkan hewan juga bisa bermimpi loh, hehe.

Memang, kalo mimpi cuma diangan-angan aja itu salah. A big wrong! Kalian akan membuang-buang waktu yang seharusnya kalian manfaatin baik-baik. Jadi, yang bener itu adalah mimpi yang dapat diwujudkan. Emang sih, nggak mudah. Bahkan impossible untuk dilakukan. But nothing’s impossible right? Selama kalian masih percaya kepada keajaiban dan rahmat Tuhan, pasti ada jalan. Bukannya ada pepatah banyak jalan menuju Roma ?

Tapi kita juga harus seleksi, usaha kita dalam mewujudkan mimpi itu bagaimana. Mendingan pake cara yang baik dan halal serta telah diuji secara klinis *what?!* yaa biar dapet Tuhan meridhoi juga dan kalian juga dapat kemudahan dalam menggapainya.

Kata guru bahsa Inggrisku waktu aku kelas 11, dalam menggapai sesuatu itu membutuhkan DUIT. Haa, duit ? Iya lah, hari gini mana ada yang gratis ? Yaah, brarti butuh biaya yang gede juga dong. Eits, jangan salah tangkap dulu. DUIT adalah singkatan.

D = Do’a
U = Usaha
I = Istiqomah
T = Tawakkal

See it ?

Kalo kita usaha tanpa do’a, ibarat sayur tanpa garam. Hambar. Kenapa? Karena kita harus berdo’a juga, memohon kepada Yang Maha Berkuasa agar dimudahkan dalam urusan. Selain itu, kita juga dituntut untuk beristiqomah. Maksudnya harus tetep konsisten. Kalo nggak konsisten mah, ya percuma dong. Berarti cuma asal-asalan. Nah, kalo udah ngelakuin ketiga hal di atas, kalian harus berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kita harus pasrah dengan hasil atas usaha yang kita lakukan. Apapun hasilnya, kita harus tetep berlapangdada meskipun pahit.

Ingat, rencana Tuhan adalah yang terbaik. Jangan takut bermimpi 🙂