Posted in coretancerita

Tentang Ulang Tahun

Setiap hari umur orang akan bertambah. Hari berganti, menjadi bulan, lalu menjadi tahun. Tepat 20 tahun yang lalu aku dilahirkan ke dunia ini. Di hari Senin Pahing, 21 September 1998. Saat itu adalah saat yang paling mendebarkan, juga menggembirakan. Pertama kali seorang wanita melahirkan seorang anak, dan anak itu selamat, sehat wal afiat.  Seorang pria yang terlihat cemas dan mencoba menguatkan wanita yang berusaha mengeluarkan anaknya dari rahim. Perjuangan yang sungguh luar biasa, antara hidup dan mati. Terdengar suara bayi yang masih bersimbah darah ibunya menangis memenuhi ruangan itu. Lega. Sumringah wajah wanita dan pria itu. Wajahnya seperti tidak percaya bahwa mereka sekarang menjadi seorang ayah dan ibu. Dialah mama dan papa ku. Akulah bayi itu. Mama dan papaku terlihat sangat senang. Bayangkan saja, melahirkan anak pertamanya yang berada selama 9 bulan dalam kandungan.

PicsArt_08-23-05.10.52Waktu buka-buka galeri di laptop, eh nemu foto ini. Foto sama mama waktu ulang tahunku (umur 2 tahun) dirayain.

Sekarang sudah tepat 20 tahun aku berada di bumi. Sudah 20 tahun aku dititipkan Allah SWT di dunia. Sudah 20 tahun aku menjadi anak papa dan mama. SUDAH 20 TAHUN!

Hari ini, banyak ucapan selamat yang ditujukan padaku. Banyak doa-doa yang dimohonkan kepadaku. Bahkan ada juga yang bilang ‘hii tuwek lee’ ‘kok wes 20 tahun? Awakmu tau gak munggah kelas yo?’ ‘wes 20 tahun tapi kok sek jomblo’

Haha, ya gimana ya rek. Emang gitu ee.

Tapi dibalik itu semua, tersimpan banyak pikiran dalam benakku. Bukan saat ini saja, tapi di setiap hari ulang tahunku.

Berapa lama lagi aku akan hidup di dunia sementara umurku semakin lama semakin berkurang?

Berapa lama lagi aku bisa melihat mama dan papa ku ?

Kemarin malam, terlintas di benakku saat memandangi langit malam.

Apakah aku sudah membahagiakan mama dan papa? Atau aku hanya merepotkan mereka saja?

Apakah aku sudah melakukan sesuatu untuk mama dan papa? Atau aku hanya bisa merengek minta ini dan itu?

Apakah aku sudah jadi anak yang baik bagi mama dan papa? Atau hanya bisa menjadi seorang anak yang nakal?

Dan,

Apakah hidupku sudah berguna bagi orang lain?

Apakah aku sudah berbuat baik untuk orang lain?

Apakah aku sudah menjadi seorang hamba yang baik?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui pikiranku.

Ada, sesuatu yang tidak aku sukai tentang hari ulang tahunku.  Karena itu mengingatkan bahwa hidup akan bertemu dengan kematian. Mengingatkan bahwa perjumpaan akan bertemu dengan perpisahan. Dan mengingatkanku, waktuku untuk berbakti kepada orang tua akan berkurang.

Ah, aku tidak suka ini. Aku tidak suka perpisahan. Aku takut untuk berpisah, aku ingin terus bersama-sama. Selama-lama-lama-lama-lamanya. Kenapa harus ada perpisahan jika bisa terus bersama?

Haha, aneh memang aku ini.

Terkadang jika aku sudah tenggelam dalam kesedihanku tentang perpisahan seperti ini, aku harus ingat bahwa perpisahan ini hanya sebentar. Karena aku yakin suatu saat aku pasti bertemu dengan mereka.

Oke, kembali lagi ke ‘Tentang Ulang Tahun’

Mungkin mayoritas orang bahagia karena ‘hari ini’ adalah hari ulang tahunnya. Merayakan dengan pesta, mengundang kerabat-kerabat, banyak kado dan kue-kue yang enak. Sejujurnya saat aku kecil aku ingin sekali seperti ‘mereka’ itu. Pernah suatu ketika, saat aku SD, aku bilang ke mama dan papaku buat ngerayakan ulang tahun, mengundang teman-temanku dan diberi hadiah. Jugaa pada saat SMA aku meminta uang jajan lebih ke orang tuaku untuk mentraktir teman-temanku. Tidak perlu ke tempat mahal, cukup belikan mereka martabak di Mbak Saseh atau Mbak It aja mereka udah seneng. Bagiku, yang penting adalah Q-time nya. Ya, otomatis mereka tidak setuju lah.

Mending, uangnya di tabung atau disedekahkan, Ndhuk.

Aku merasa jengkel dan kecewa.

Kenapa aku nggak boleh padahal teman-temanku boleh sama orang tuanya? Aku  kan juga pengen seperti mereka. Pengen seneng-seneng.

Mamaku langsung marah. Aku masih ingat itu, diomeli. Ya, aku marah bin ngambek juga dong. Tapi, setelah dipikir-pikir, bener juga sih. Ngapain aku harus mentraktir orang lain padahal uang itu bisa aku tabung lalu aku belikan sesuatu yang aku inginkan. Ya kaan?

Kalau sekarang mah, diucapkan aja udah cukup. Diingat ya alhamdulillah, nggak diingat ya nggak apa. Sesimple itu aja sih sekarang. Nggak mau aneh-aneh.

Dulu waktu mau lulus SMA, aku sempat kepikiran, kenapa banyak yang mengucapkan selamat saat ulang tahun? Kan umur orang itu berkurang. Selamat menuju kematian maksudnya?! *bercandaaa* *eh tapi serius dulu sempet kepikiran gitu*

Siapapun yang berulang tahun, semoga hidupnya semakin berkah, ilmu dan imannya bertambah, dan semakin bermanfaat bagi orang lain. SELAMAT ULANG TAHUN!

 

Advertisements
Posted in Opini

Anime: Buruk atau Baik?

Assalamu’alaikum, folks, I have been a long time not posting here. I really enjoyed my long holiday, but now I have to back to my activities as student college. Well, my job desk as committees are coming. I did nothing fun in my holiday. Just learning something, and gettin ill, and doing some hobbies.

One of my hobbies is watching anime. Anime adalah animasi yang berasal dari Jepang, merupakan singkatan dari animation dalam bahasa Inggris yang merujuk pada semua animasi (wikipedia).  Banyak persepsi negatif yang diberikan pada orang yang suka nonton anime. Padahal jika menyikapi dengan baik, menghindari konten-konten yang berbahaya, dan tidak berlebihan, oke-oke aja. Kalau menurut orang tua sih, anime itu kartun. Padahal ya, bukan juga.

Banyak beberapa temanku yang mengatakan bahwa anime itu buruk, porno, kejam, nggilani, dsb. Namun, apa bedanya dengan film dan drama pada umumnya?

Dalam anime, sebelum menonton ataupun men-download, pasti disebutkan genre apa saja dan dijelaskan sedikit cerita anime tersebut, sehingga penonton anime akan tau lebih dulu. Ada beberapa genre anime yang menurutku masih asing ketika aku mendowload anime. Genre-genre tersebut harus diketahui terlebih dahulu artinya. Tinggal cari di google arti genre tersebut. HINDARI anime yang berbau konten dewasa dan tidak sesuai umur, seperti genre hentai, ecchi, yaoi, yuri, dan lain-lain yang dapat merusak pemikiran-pemikiran kita.

Anime tidak seburuk seperti yang orang lain pikir. Banyak teman-temanku yang bahkan dapat berkarya dengan anime. Tentunya ditunjuang dengan bagaimana mereka menyikapi dan mengolahnya. Selain itu, juga pastinya terdapat beberapa ilmu baru tentang suatu hal yang mungkin  masih belum kita tau. Seperti pada anime Prince of Stride yang menceritakan tentang sekelompok siswa SMA ingin mengikuti lomba stride. Nah, di Indonesia kan masih belum ada lomba stride dan juga terdengar asing. Apa itu olahraga stride? Selain itu juga ada anime Shokugeki no Souma tentang cara memasak yang menurutku itu unik, dengan banyak menu makanan yang menggiurkan.

Salah satu anime favorit ku adalah Gintama yang mengajarkan pentingnya persahabatan, kebersamaan, bagaimana memaafkan masa lalu, bagaimana harus berjuang ke depan,  dan beberapa quotes yang membangun dan bagus, meskipun menurutku ceritanya nggak jelas dan hampir semua genre ada di dalamnya. Tidak jelas.

Dalam menonton anime, pasti ada beberapa karakter yang interesting. Nah, seringkali mereka-mereka yang tertarik dengan tokoh anime, mengklaim bahwa mereka adalah pacar 2D mereka, biasanya disebut husbando untuk tokoh anime cowok dan waifu untuk tokoh anime cewek. Ketertarikan itu terjadi karena ada beberapa hal yang menjadi pemicu, entah itu si tokoh ganteng/cantik, baik hati, suka menolong, rajin menabung, bad boy, keren, pinter, punya roti sobek, dan lain-lain. Tapi please, please, please banget, jangan terlalu berlebihan dalam menyukai, apalagi menyukai karakter anime sampai-sampai mengklaim akan “dijadikan suami/istri beneran” atau “menikah” dengan mereka. Ini sempat terjadi pada beberapa fans karakter anime tertentu, sampai-sampai mereka dicap gila, nggak waras. Oh, ayolah, kalian dan mereka hidup pada alam dan berbeda. Ya masa kalian akan diimpor ke dunia virtual 2D? Nggak kan?! Jadi, berpikir waraslah. Biasanya sih, ini terjadi sama yang jomblo ya, wkwkwk.

Atau biasanya dalam anime romance, pecinta anime sukanya nge-ship partner.

Masih tentang anime Gintama.

Ah, aku nge-ship Kagura sama Sougo, menurutku mereka lebih cocok. Coba mereka berdua akur.
Nggaaakk!!! Lebih cocokan Kagura sama Shinpachi, Shinpachi lebih dewasa ketimbang Sougo itu kejam.

Ya,  wajar aja sih, kalau kalian, para mencinta anime nge-ship gitu, pun aku juga sering nge-ship dan sering juga debat sama temenku. Debat tiada akhir dan berakhir dengan candaan, kadang tetap dengan ego dan pilihan masing-masing. Tapi tetap menerima perbedaan dan nggak sampai musuhan dong, toh kalau musuhan gara-gara pilihannya nggak sama, nggak akan mengubah ceritanya, ya kan? Yakali mau demo ke mangaka nya.

Nonton anime ketika waktu luang banyak itu merupakan surga banget. Bisa nonton berjam-jam, bahkan bisa khatam satu anime atau satu season bisa. Aku dulu pernah sehari itu nonton 10 episode anime. Ada juga kakak tingkatku liburan ini ngejar nonton anime Naruto yang punya beratus-ratus episode itu, dan akhirnya ya, mau selesai juga nontonnya. Waaaww. Emang sih, kejar ketertinggalan waktu kan. Hanya saja menurutku itu nggak bagus juga karena akan melupakan sosialisi dan ngebuat mager tingkat dewa, mata juga akan semakin minus 😦

Menyukai anime boleh-boleh aja, sah-sah aja kok. Gak akan dihukum. Bahkan dengan anime dunia imajinasi meluas dan terasah. Banyak kok, teman-temanku yang suka anime juga berkarya. Biasanya mereka suka menggambar  tokoh anime, nulis fanfiction, dsb. Menurutku mereka keren abis! Mereka bisa ngebuktiin bahwa anime nggak selamanya berdampak negatif dan nggak melulu buang-buang waktu.

 

Posted in Opini

Mati Satu, Semua Dibunuh

Assalamu’alaikum, minna-san!

Hehe, sekarang saya lagi ingin-inginnya belajar bahasa Jepang, siapa tau nanti bisa lanjut S2 di Jepang kan? Aamiin.

Saya menulis ini saat lingkungan sekitar dalam keadaan dalam. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati kenikmatan kedamaian dan keamanan ini. Tinggal di perumahan pinggir kota yang dekat dengan kampung tanpa takut ada hewan buas yang akan datang. Cuaca cerah berangin yang menyebabkan pohon ikut menari-nari terterak angin. Yang bisa saya lihat melalui jendela ruang tamu. Hal yang tidak saya dapatkan ketika saya di tanah rantau yang hanya bisa berdiam di kos dan keluar jika kuliah atau membeli sesuatu. Pun itu hanya sedikit pepohonan yang saya temui. Saya sempat berpikir, bagaimana dengan orang-orang di luar sana? Apakah mereka merasakan kedamaian dan keamanan seperti yang saya rasakan?

Beberapa hari yang lalu, kita dikejutkan dengan berita tentang pembantaian buaya di Papua Barat sebagai kemarahan, protes, dan balas dendam karena salah satu warga sekitar yang saat itu tengah mencari rumput untuk pakan ternak dibunuh oleh salah satu buaya yang ada di penangkaran. Penangkaran dan lahan warga hanya dibatasi oleh pagar besi, yang memugknkan buaya dapat keluar dengan mudah ke lahan warga. Keamanan yang menurut saya dan beberapa warga begitu kurang diperhatikan.

Amarah warga memang tidak bia dihentikan karena mereka juga takut apabila hal ini sampai terjadi lagi.

Bagaimana jika keluargaku sampai diterkam buaya seperti ini lagi?

Setiap manusia pasti memiliki rasa takut, sayang, melindungi. Allah sudah menciptakan perasaan itu. Wajar saja, apabila warga akan marah dan kemudian membunuh buaya yang menyerang, bahkan lebih buruknya seperti kasus di atas, warga membunuh 200 lebih buaya di penangkaran tersebut agar di masa depan pembuhunan oleh buaya tidak terjadi lagi. Buaya memang dikenal sebagai salah satu predator yang menakutkan sejak zaman nenek moyang kita. Lihat saja, ada kan cerita rakyat yang bercerita tentang seseorang yang dibunuh oleh buaya?

ADAA!!

Mari kita kembali dalam persoalan di dunia nyata.
Sebenarnya, kita tidak bisa menyalahkan buaya sepenuhnya.  Apabila kita menelisik kembali peristiwa-peristiwa terdahulu, manusia lah yang salah.

Loh, kok bisa?

Bisa kok.

Siapa yang membuka hutan dan menghilangkan habitat asli untuk membuka lahan?
Siapa yang membunuh hanya untuk diambil kulit untuk dijadikan tas branded yang mahal?
Siapa yang mengambil makanannya untuk dijadikan pajangan?
Siapa?
Manusia kan?
Memang tidak semua manusia, lalu manusia yang mana?

Inilah pentingnya intropeksi diri. Apakah saya sudah melakukan sesuatu yang jahat terhadap alam? Apakah saya sudah menghargai alam?

Alam yang saya maksud di sini tidak hanya persoalan lingkungan saja, tapi juga makhluk hidup di dalamnya: manusia, hewan, tumbuhan.

Hak asasi tidak hanya dimiliki oleh manusia saja, alam juga punya hak asasi. Beda memang hak asasi manusia dengan hak asasi hewan maupun tumbuhan. Yang jelas, mereka sama-sama memiliki hak untuk hidup.

Apabila warga sekitar protes terhadap kelalaian petugas penangkaran, mengapa melampiaskan untuk membunuh para buaya? Bahkan anak buaya juga terkena imbasnya. Mengapa tidak langsung saja protes ke petugas penangkaran? Bukankah itu lebih baik daripada menghabiskan waktu dan tenaga untuk membunuh banyak buaya  yang dilindungi?

Sebelum membangun penangkaran, tentunya mereka akan melakukan peninjauan di lapangan, melihat kondisi sekitar untuk membangun bagaimana penangkaran yang cocok untuk buaya di tempat tersebut, bukan? Tetapi, mengapa hanya dibatasi oleh pagar besi saja? Dan yang leboih penting, kenapa tempat penangkaran itu harus di dekat permukiman warga? Pastinya, mereka memiliki suatu alasan.

Tetapi, warga keburu marah dan hanya marah yang menutupi pikiran dan hati mereka. Hanya ada satu alasan, yaitu melampiaskan dengan membunuh buaya. Bukankah jika hal demikian artinya manusia lebih menakutkan dari buaya tersebut?

Kasus ini dapat kita jadikan suatu pelajaran. Jangan keburu marah. Kita harus mendinginkan kepala sejenak untuk bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah. Berdoa kepada Allah untuk senantiasa diberi petunjuk untuk ikhlas dan berpikir jernih karena masalah tidak akan selesai jika diselesaikan dengan balas dendam. Yang ada akan terjadi masalah baru.

Seperti melempar bara pada api, maka api akan semakin besar. Tetapi jika melempar air pada api, maka api akan mengecil, bisa jadi padam juga.

Teman-teman yang ngasih pandangan kalian di ask.fm maupun di instagram saya, arigatou gozaimasu! Pandangan kalian sangat berarti untuk menulis ini. Makasih banyak udah ngeluangin waktu buat ngebales pertanyaan-pertanyaan saya.

Wassalamu’alaikum.

Posted in coretancerita

Kolega Sampai Surga dan Lippo Mall

Assalamu’alaikum, hallooooo readers!
Sudah lama ya, nggak ngepos sesuatu di blog tercintah ini, whehehehe
Kali ini bukan soal galau-galau curahan hati yang … ah, gitu lah pokoknya.

Kali ini, aku akan membagi cerita tentang pengalamanku menjadi delegasi Musyawarah Wilayah 3 yang diadakan di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Btw, baru kali ini aku ke Jawa Tengah wakakakak (oke, ini gapenting#)

 

Jumat, 04-05-2018

Pagi itu dingin sekali, menurutku. Sinar matahari masih malu-malu untuk menyapa tapi kehangatannya mulai terasa perlahan seiring detik berpacu, menit berlari, dan jam berjalan. Kami diharuskan kumpul di Stasiun Pasar Turi pukul 5.30 karena kereta kami berangkat pukul 6.00. Aku menggunakan ‘kami’ karena tidak hanya aku sendiri. Ya, ada 12 orang, yaitu Mas Abin, Mas Vio, Mbak Neula, Mbak Andhin, Mbak Ica, Mas Putra, Ulfah, Arira, Aku, dan Bella. Dan dari FKM Banyuwangi ada Mas Azis, Mbak Novie, Mbak Dinda, dan Nadiyah. Sayangnya, Mbak Neula nggak jadi berangkat bareng kita karena masih ada urusan di kampusnya. Aku dan Bella adalah peserta delegasi dari oprec (alhamdulillah lolos wkwkwk).

Perjalanan dari stasiun Pasar Turi sampai Stasiun Poncol memakan waktu kurang lebih 4 jam 40 menit perjalanan. Semarang panas, tapi tak sepanas di Surabaya. Dan gara-gara Mas Putra bilang ke LO kalau tiba di stasiun jam 11. 40, jadi kami harus menunggu. Ada suatu insiden juga gara-gara ada kesalahpahaman antara sang LO dengan petugas stasiun.

20180505_180511_0010Foto sambil nunggu LO datang menjemput di hari yang panas
(Mas Putra kayak ngajak raksasa tinggi banget)

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan di BPSDM Jateng. Kamar kami diacak, jadi 1 kamar anggotanya dari beberapa universitas. Kita bisa kenalan dan punya teman baru dari universitas lain. Seru gak siiiiiiiiiiihhh!!!
Di hari pertama ini, peserta delegasi tidak ada kegiatan. Dan juga, belum semua pesertanya datang. Ada juga yang datang besok. Karena gabut, jadi kami dari Unair memutuskan beli makan di luar, tapi titip panitia. Karena rasa lapar ini sudah tidak bisa ditahan. Kami memutuskan makan Tapi Mas Vio, Mas Azis, dan Mas Putra malah pergi sendiri sehabis sholat jum’at. Katanya sih, ke Lippo Mall. Tapi ternyata ZOOOONKKKK!!!! Lippo Mall nya masih dibangun. Tertypu mereka. (bahkan ketika aku nulis ini juga ngakak wkwkwk)

Daaaaann habis maghrib kita memutuskan untuk pergi ke Simpang Lima. Ini bukan yang kayak Simpang Lima Kediri ya, hehe, beda. Di sekitas Simpang Lima ini banyak mall, hotel berbintang, dan ini adalah pusat keramaian seperti alun-alun gitu. Letaknya sungguh strategis dan penataan dengan sekitarnya juga rapi. Suasa malam itu sangat ramai, ada banyak hiburan dan permainan tersedia. Ada ketapel yang ada lampunya, bubble, sepeda, gowes, makanan pinggir jalan, dan masih banyak lagi. Yang jelas, enak lah! Lalu kami melanjutkan perjalanan ke salah satu pusat perbelanjaan di sekitar sana. Kami nongkrong sekaligus nyobain makanan-minuman disana meskipun sebelumnya kami sudah makan malam, hehe.

20180505_180511_0038Korban Lippo Mall (bukan saya)

Sabtu, 05-05-2018

Hari ini adalah hari dimana menurutku adalah puncaknya muswil. Acara pertama adalah Semnas yang dilaksanakan di Aula dr. Budioro Brotosaputro dengan tema “Millenials Enforcement as the Power of Nation Health Improvement”. Sebelum masuk ke acara inti, ada persembahan Safety Induction dari peminatan K3 dan tari selamat penyambutan dari daerah Lampung. Kukira dari Semarang 😦 Selanjutnya masuk ke acara inti yang pertama disampaikan oleh Bapak Agung Dwi Laksono, S.KM, M.Kes. yang keren abiiiss!  Beliau menceritakan pengalamannya mengabdi dan memperbaiki kesehatan ke berbagai penjuru Indonesia. Bahkan perjalanannya itu dibukukan. Wah, gils gils… Pak Agung ini bersemangat sekali dalam bercerita, meskipun waktunya sudah habis, cerita tetap lanjut. Patut ditiru ini semangatnya. Kemudian dilanjut Training Teknik Fasilitasi oleh Bapak Drs. Syamsulhuda, S.KM, M.Kes. Jadi ada 3 mahasiswa maju dan diminta untuk melakukan public speaking dengan tema bebas.  Setelah pemaparan penjelasan dari Bapak Syamsulhuda, kami disuguhi penampilan teater dari UKM Studio 8. Teater ini menceritakan 3 orang mahasiswa yang mencari bumil di desa-desa untuk mendampingi bumil agar bumil tersebut bersalinnya lancar dan selamat, pun juga dengan bayinya. Tapi karena salah satu mahasiswa tersebut yang omongannya nggak bisa dijaga, sang suami tidak menyukainya. Dan blablablabla, sang bumil dibawa ke layanan kesehatan terdekat. Sayangnya, nyawanya tidak dapat tertolong dan sang suami menyalahkan 3 mahasiswa tersebut.

20180505_180511_0049Foto bersama kabem fkm undip dan Mbak Ama

Sayangnya, waktu lumayan terlambat bin ngaret dari jadwal. 2 jam an loh ngaretnya. Omegat, ini entar kelar jam berapaaaa????
Sidang yang awalnya dijadwalkan dimulai pukul 16.00 malah dilaksanakan jam 7 malam lebih. Sidang dilaksanakan di Gedung Bundar. Lucu, ya namanya gedung bundar. Kukira apa, ternyata emang bundar bentuk di dalamnya (aula).

Serangkaian acara sidang dari sidang pleno sampai sidang komisi dilakukan. Sidang pleno 1 membahas dan menetapkan agenda acara, dilanjut sidang pleno 2 membahas dan menetapkan peraturan sidang, dilanjut sidang pleno 3 menetapkan presidium tetap 1, 2, dan 3. Kukira waktunya nggak akan lama dalam membahas dan menetapkan agenda acara dan peraturan sidang, mungkin lamanya di pemilihan presidium. Eh, semuanya lama juga ternyata. Setelah itu dilakukan sidang pleno 4 yang membahas tentang LPJ Korwil dan Pengwil tahun 2016/2017. Bahkan ini juga memakan waktu yang cukup lama. Ditengah pembahasan, atmosfir ruangan mendadak berubah. Hawa kantuk mulai terasa dan menular dari satu orang ke orang lainnya. Tidak diberi minuman dan minumannya ambil sendiri di luar padahal aku mager parah membuat rasa kantuk ini menjadi-jadi. Malahan teman disebelahku sudah tidur duluan. Entah bagaimana dengan yang ada di depan. Dan sidang pleno ke 5 membahas tentang demisioner korwil dan pengwil 2016/2017.

Daaaaaaaaaann akhirnya coffe break. Tapi entah kenapa tidak berpengaruh denganku. Aku memilih teh, bukan kopi, hehe. Setelah itu dilanjutkan sidang komisi yang membahas tentang rekomendasi muswil dan kriteria korwil. Sidang pleno 7 menetapkan kriteri korwil sampai sekitar jam 2.30 pagi. Daaaaaann akhirnya istirahat kembali ke kamar masing-masing sampai jam 7.30 pagi.

 

Minggu, 06-05-2018

Sidang dilanjut lagi pukul 7.30. Tak lupa sebelum itu aku membawa air minum sendiri dan cemilan Tango untuk menahan rasa kantuk dan agar maag ku tidak kambuh gara-gara kurang tidur. Sidang ke 8 ini membahas tenang AD/ART dan GBHO ISMKMI. Kemudian dilanjut penetapan korwil 3 ISMKMI selanjutnya. Ada 4 calon yang diajukan. Mbak Octa Undip, Mas Firman Unej, Mbak Neula Unair, dan Mas Affan Unair. Sebenarnya banyak universitas yang menginginkan Mas Affan menjadi korwil, tapi dari pihak Unair ingin Mbak Neula yang menjadi korwil. Setelah memaparkan visi misi, calon korwil diharap keluar agar peserta delegasi dapat memilih siapa yang menjadi korwil selanjutnya. Langkah awal adalah dengan musyawarah. Tetapi tidak didapat kesepakatan. Akhirnya dilanjut lobbying dan didapat Mas Affan lah yang maju menjadi korwil.

Huuuu syedih kaaan 😦
Tapi mungkin inilah jalan yang terbaik.
Lalu dilakukanlah serah terima jabatan.

IMG20180506121250Congrats Mas Faaaann

Setelah itu kami dibagi-bagi berdasarkan daerah: Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTT, NTB untuk pemilihan Korda. Pemilihan ini juga dibarengi dengan oprec pengwil. Dan dari Jatim kami terpilih korda dari UNUSA. Wih keren, mantaaapp! Selanjutnya ada pengumuman dan penetapan pengwil, sumpah jabatan korwil dan pengwil 2018/2019, dilanjut dengan pembahasan Renstranas ISMKMI 2015-2019.
Pembahasan ini, kami dipisah-pisah, dicampur dengan universitas lain. Aku kebetulan satu kelompok dengan Mbak Ica dan membahas tentang Universal Coverage dan Anggaran Dana.

Lanjuuuuuuuttt
Sidang pleno 10 membahas tentang pemilihan dan penetapan tuan rumah muswil dan rapimwil kepengurusan baru. Dan terpilihlah tuan rumah muswil di Universitas Jember dan tuan rumah rapimwil di STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Waaah selamat dan semangat yaaaaaahh

Acara selanjutnya adalah penetapan Planning On Action, penetapan hasil muswil dan rakerwil tahun 2018 dan istirahat deeeeeeehhh. Hari ini entah bagaimana acaranya selesai lebih awal dari perkiraan.

 

Senin, 07-05-2018

Hari ini adalah hari perpisahan. Huhuhuu, sedih banget. Bakalan kangen sama teman-teman satu kamar. Delegasi dari Unair nggak ikut city tour karena keretanya berangkat jam 11.00. Jadi, yaaahhh city tour sendiri deh. Dan waktunya QTIME dengan kolega-kolegaaaa yeyyyy!! Kami dipesankan 3 ojek online oleh panitia karena panitia nggak ada yang bisa ngantar (dan dibayari oleh panitia). Tujuan kami adalah Lawang Sewu. Bangunan antik yang dibangun pada zaman Belanda ini dulunya adalah kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Dan sekarang dijadikan tempat wisata. Ada banyak barang peninggalan ketika bangunan ini dipakai kantor kereta api. Memang hawanya saat pertama kali menginjakkan ke dalam ruangan museum agak gimana gitu, ya. Apalagi ketika aku ditinggal sama teman-temanku yang ternyata sudah pindah ke ruangan lain :”( Padahal cuaca hari itu bagus sekali. sinar terik dan langit biru dengan sapuan awan cirrus dan beberapa awan cumulus. 

IMG20180507085310Cantik kan ya orangnya

Aku mengamati barang-barang lama yang dimuseumkan, dan aku menikmatinya. Rasanya ada kesenangan tersendiri ketika mengamati senti demi senti barang kuno. Ada kemarin itu ketika aku mengamati mesin ketik, tiba-tiba ada bayangan orang di belakang tapi saat kulihat, nggak adaa. Ya, mungkin ‘mereka’ pingin nemenin aku kali yak, soalnya sendirian 😦 #lol
Ya, kami menyusuri Lawang Sewu dengan foto-foto di berbagai sudut. Kami juga bertemu dengan teman-teman dari UM, mereka ternyata juga city tour sendiri wkwk.
Kami juga ke lantai 2 untuk berfoto di sana. Tapi saat ingin menyebrang, eh ternyata jalannya di tutup. Hmm, yaudah deh. Akhirnya kami turun dan di jalan menuju keluar, kami menemukan tangga yang menuju suatu ruangan langit-langit. Tidak ada tulisan dilarang naik, ya, kami naik saja. Waktu mau sampai, eh, ternyata ada suara kelelawar melintas. Seketika kami kaget. Dan ternyata di sana juga ruangan kosong.

Di dekat pintu keluar gedung ada ruangan bawah tanah, gelap, dan isinya itu uang koin. Sewaktu zaman kolonial, lorong itu berfungsi sebagai tempat saluran air dan saat penjajahan Jepang dijadikan penjara jongkok. Penjara itu berukuran 1×1 meter dengan bak ukuran 0,5 meter, kemudian tahanan yang jumlahnya lebih dari 5 orang harus berimpitan masuk ke penjara itu. Para tahanan harus jongkok di dalamnya kemudian diberi air setinggi leher, lalu bak itu ditutup oleh teralis besi sampai mereka meninggal. Ngeri, ya?

Setelah puas, kami beristirahat sejenak di tangga dekat gerbang keluar. Kami kedatangan tamu, yaitu Mbak Friaaaaa. Kebetulan dia juga di Semarang di rumah neneknya. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh di Pangandaran. Aku pingin beli lumpia, tapi kenapa harga 1 bijinya 10ribu, cobaak 😦 Syedih aku tuh yaaa…. Akhirnya aku membeli oleh-oleh lain yang menurutku itu pas di kantong anak rantau.

Dan akhirnyaaa waktunya pulaaang. Wah, gak kerasa juga ya. Kami memesan ojek online dengan tujuan Stasiun Poncol. Tapi driver yang mengantarku sungguh tidak menyenangkan. Dianya minta uang tambahan yang hampir 2x lipat harga semestinya.

Kami pun pulang ke Surabaya. Terlalu banyak hal yang dikenang dari Semarang, mulai dari acaranya, simpang limanya, makanan khas nya, lawang sewunya, tananan kotanya, sampai lippo mall nya.
Teruntuk kalian yang menyebut diri ‘kolega sampai surga’ terimakasih banyak 🙂
Salam kolega (pakai jari kayak telpon)

lawangsewu_180511_0115    lawangsewu_180511_0123 lawangsewu_180511_0155

 

sumber :
https://news.detik.com/berita/2786242/misteri-lorong-bawah-tanah-lawang-sewu-konon-jadi-penghubung-gedung-tua-di-semarang
https://id.wikipedia.org/wiki/Lawang_Sewu

Posted in Uncategorized

Friends? We are Family!

Hello, folks! I am so sorry because I’m late to update my post. Actually, I am in a long holiday but a month ago I was in a place that made me busy, hehe. A month ago, I went to Pare untuk mengisi libur panjangku dan menghindari omelan mama di rumah. And fortunately, ada temenku yang ngajak ke Pare. Ke ELLA. Yaudah de, sekalian. Hehe.

Pare. Kampung Inggris. Suasananya asri, orang-orangnya ramah, mungkin aku akan betah di sini. Ya, meskipun pada malam pertamanya aku mendapatkan masalah dan itu sangat tidak menyenangkan, tapi aku berharap aku bisa nyaman di sini, paling tidak sampai study-ku selesai.

IMG-20180102-WA0058

Foto di atas adalah teman-teman sekelasku, bersama tentor yang memakai baju hitam-oranye. Foto itu diambil ketika selesai corat-coret muka gara-gara salah/ tidak bisa menjawab saat tebak-tebakan vocab. Haha, seru sekali! Ada yang sampai belepotan mukanya gara-gara banyak yang salah vocab-nya, ada yang tidak kena sama sekali (yang ini pasti dia sangat pintar!). Aku? Pastilah kena! Untungnya cuma sedikit, tidak sampai belepotan.

IMG-20180103-WA0052

Foto ini diambil di studio foto. Ya, ini juga foto teman satu kelasku, meskipun tidak full team. Oiya, ada cerita dibalik foto di studio ini. Ceritanya adalah SEPEDAKU KETUKER!!! Dan seketika aku panik! Tapi akhirnya ketemu juga kok.

IMG-20180119-WA0025

Dan foto ini adalah foto setelah farewell party. Foto tersebut adalah foto satu angkatan, yaitu ‘ELLA Fullday 73’. Sedikit, ya? Itu karena sudah banyak yang pulang duluan sebelum waktunya dan juga banyak yang tidak ikut farewell party karena (mungkin) ada suatu kepentingan :”) Sedih sekali tidak bisa foto full team. 

Aku sangat berterimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan teman-teman yang baik, peduli, asyik, dan membuatku betah selama di Pare. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tulis tentang mereka. Tidak akan ada habisnya aku menceritakan mereka. Yah, maybe di tulisanku yang lain. Hehe, see yaAnd, enjoy this! 

 

Thank you so much my loves, I hope we can together like that one day 🙂

 

Posted in Uncategorized

Aku Ingin Pulang (2)

Cahaya mentari menyapaku dengan malu-malu pagi ini. Yah, gimana mau nggak malu, wong  dia datang bersama awan kelabu. Hawa hari ini agak dingin. Sepertinya kota Surabaya ini sedang ditaburi beberapa kesejukan dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Di lantai paling atas tempat kos ku, aku berdiri sambil memandangi awan yang dapat bergerak bermil-mil jauhnya. Aku sempat iri padanya. Mereka dapat berjalan-jalan mengelilingi dunia, sedangkan aku tidak. Mereka dapat pulang ke peraduannya, sedangkan aku tidak. Aku tetap di sini memikirkan bagaimana keadaan keluargaku di sana. Bahkan sekarang saja aku jarang sekali beradu dan menyaut kata dengan mereka. Aku benar-benar rindu senyum dan kasih sayang mereka. Aku tau kalau mereka selalu mendoakanku nun jauh di sana. Meskipun itu bentuk kasih sayang yang tak langsung, tapi kasih sayangnya menguatkanku sampai detik ini, maupun nanti.

Setiap hari ku memohon. Setiap hari ku berharap. Aku ingin pulang. Sudah berat rasa rinduku ini. Aku tak peduli apa kata orang yang katanya aku lemah atau mungkin mereka berkata, “ah, kamu ini. Liat aku, dong! Rumahku jauh di (beda provinsi) tapi aku ya b aja nggak kayak kamu. Dasar lebay!”

I really don’t care how’s your feeling!

Yang jelas aku kangen rumah, kangen keluarga. Mungkin aku seperti anak kecil, tapi memang inilah aku. Aku nggak bisa jauh dari keluarga.

Ingin rasanya ku menangis. Meluapkan segala emosi yang menjadi beban hati ini. Meluapkan kekesalan yang menghantui. Agar rasa ini segera berkurang. Agar mereka mendengar bahwa aku merindukannya. Agar mereka tau bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.

Posted in coretancerita, Uncategorized

Beda

Di dunia ini, tidak ada orang yang sama. Yang ada hanya orang yang hampir mirip, bukan sama. Manusia itu unik. Bahkan anak kembar yang identik saja punya beberapa perbedaan, entah itu fisik, psikis, watak, atau hal lainnya, meskipun seperti bulan yang terbelah menjadi dua.

Saat ini, angin berhembus dengan santai tetapi sangat dingin. Beberapa pohon di bawah sana tampak kegirangan dengan angin yang membawa kesejukan, karena setelah berhari-hari kemarin tak ada angin tak ada hujan. Yang ada hanyalah terik panas matahari. Imajinasiku mulai bermain dan tiba-tiba saja lamunanku buyar lantaran aku mengingat dirinya. Astaghfirullah. Kenapa harus sekarang? Aku malas sekali memikirkannya yang kian lama kian terlihat bersinar tetapi jauh. Dan aku hanya bisa mengagumi akan sinarnya.

Dia hebat, ya. Berwibawa, indah, positif, semangat, tegas, keren. Sedangkan aku? Aku hanyalah makhluk kecil yang selalu negatif, lemah, tak bisa berbuat apa-apa, penakut, plin-plan, nggak keren sama sekali. Kata orang, jika ingin menyukai seseorang, terlihatlah bahwa kamu punya kemampuan yang setingkat dengannya, atau lebih. Dari situ lah aku berusaha untuk menyejajarkan kemampuanku dengan kemampuannya yang sangat jauh dariku. Aku mengikuti beberapa jalan yang pernah kau lalui. Bukannya aku seorang stalker, loh yaaaa… Karena waktu itu aku tak tau harus melakukan apa, maka aku ingin mengikuti apa yang pernah dilaluinya. Anggap saja kalau dia adalah inspirasiku.

Lain dia lain pula aku. Rasanya aku tak cocok mengikuti jalannya meskipun jalannya akan membawa dampak yang sangat besar padaku dan itu sangat baik juga. Tapi rasanya aneh sekali ketika meniatkan sesuatu karena seseorang, bukan karena Allah. Rasanya seperti tak berimbas padaku dan hanya mendapat kelelahan dan buang-buang waktu saja. Ingin rasanya aku kabur lalu kembali pulang ke peraduan. Tapi aku nggak bisa. Aku teringat kata-kata ibuku bahwa untuk tidak lari dari masalah dan aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku sendiri.