Posted in journey

Kolega Sampai Surga dan Lippo Mall

Assalamu’alaikum, hallooooo¬†readers!
Sudah lama ya, nggak ngepos sesuatu di blog tercintah ini, whehehehe
Kali ini bukan soal galau-galau curahan hati yang … ah, gitu lah pokoknya.

Kali ini, aku akan membagi cerita tentang pengalamanku menjadi delegasi Musyawarah Wilayah 3 yang diadakan di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Btw, baru kali ini aku ke Jawa Tengah wakakakak (oke, ini gapenting#)

 

Jumat, 04-05-2018

Pagi itu dingin sekali, menurutku. Sinar matahari masih malu-malu untuk menyapa tapi kehangatannya mulai terasa perlahan seiring detik berpacu, menit berlari, dan jam berjalan. Kami diharuskan kumpul di Stasiun Pasar Turi pukul 5.30 karena kereta kami berangkat pukul 6.00. Aku menggunakan ‘kami’ karena tidak hanya aku sendiri. Ya, ada 12 orang, yaitu Mas Abin, Mas Vio, Mbak Neula, Mbak Andhin, Mbak Ica, Mas Putra, Ulfah, Arira, Aku, dan Bella. Dan dari FKM Banyuwangi ada Mas Azis, Mbak Novie, Mbak Dinda, dan Nadiyah. Sayangnya, Mbak Neula nggak jadi berangkat bareng kita karena masih ada urusan di kampusnya. Aku dan Bella adalah peserta delegasi dari oprec (alhamdulillah lolos wkwkwk).

Perjalanan dari stasiun Pasar Turi sampai Stasiun Poncol memakan waktu kurang lebih 4 jam 40 menit perjalanan. Semarang panas, tapi tak sepanas di Surabaya. Dan gara-gara Mas Putra bilang ke LO kalau tiba di stasiun jam 11. 40, jadi kami harus menunggu. Ada suatu insiden juga gara-gara ada kesalahpahaman antara sang LO dengan petugas stasiun.

20180505_180511_0010Foto sambil nunggu LO datang menjemput di hari yang panas
(Mas Putra kayak ngajak raksasa tinggi banget)

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan di BPSDM Jateng. Kamar kami diacak, jadi 1 kamar anggotanya dari beberapa universitas. Kita bisa kenalan dan punya teman baru dari universitas lain. Seru gak siiiiiiiiiiihhh!!!
Di hari pertama ini, peserta delegasi tidak ada kegiatan. Dan juga, belum semua pesertanya datang. Ada juga yang datang besok. Karena gabut, jadi kami dari Unair memutuskan beli makan di luar, tapi titip panitia. Karena rasa lapar ini sudah tidak bisa ditahan. Kami memutuskan makan Tapi Mas Vio, Mas Azis, dan Mas Putra malah pergi sendiri sehabis sholat jum’at. Katanya sih, ke Lippo Mall. Tapi ternyata ZOOOONKKKK!!!! Lippo Mall nya masih dibangun. Tertypu mereka. (bahkan ketika aku nulis ini juga ngakak wkwkwk)

Daaaaann habis maghrib kita memutuskan untuk pergi ke Simpang Lima. Ini bukan yang kayak Simpang Lima Kediri ya, hehe, beda. Di sekitas Simpang Lima ini banyak mall, hotel berbintang, dan ini adalah pusat keramaian seperti alun-alun gitu. Letaknya sungguh strategis dan penataan dengan sekitarnya juga rapi. Suasa malam itu sangat ramai, ada banyak hiburan dan permainan tersedia. Ada ketapel yang ada lampunya, bubble, sepeda, gowes, makanan pinggir jalan, dan masih banyak lagi. Yang jelas, enak lah! Lalu kami melanjutkan perjalanan ke salah satu pusat perbelanjaan di sekitar sana. Kami nongkrong sekaligus nyobain makanan-minuman disana meskipun sebelumnya kami sudah makan malam, hehe.

20180505_180511_0038Korban Lippo Mall (bukan saya)

Sabtu, 05-05-2018

Hari ini adalah hari dimana menurutku adalah puncaknya muswil. Acara pertama adalah Semnas yang dilaksanakan di Aula dr. Budioro Brotosaputro dengan tema “Millenials Enforcement as the Power of Nation Health Improvement”. Sebelum masuk ke acara inti, ada persembahan Safety Induction dari peminatan K3 dan tari selamat penyambutan dari daerah Lampung. Kukira dari Semarang ūüė¶ Selanjutnya masuk ke acara inti yang pertama disampaikan oleh Bapak Agung Dwi Laksono, S.KM, M.Kes. yang keren abiiiss!¬† Beliau menceritakan pengalamannya mengabdi dan memperbaiki kesehatan ke berbagai penjuru Indonesia. Bahkan perjalanannya itu dibukukan. Wah, gils gils… Pak Agung ini bersemangat sekali dalam bercerita, meskipun waktunya sudah habis, cerita tetap lanjut. Patut ditiru ini semangatnya. Kemudian dilanjut Training Teknik Fasilitasi oleh Bapak Drs. Syamsulhuda, S.KM, M.Kes. Jadi ada 3 mahasiswa maju dan diminta untuk melakukan¬†public speaking dengan tema bebas.¬†¬†Setelah pemaparan penjelasan dari Bapak Syamsulhuda, kami disuguhi penampilan teater dari UKM Studio 8. Teater ini menceritakan 3 orang mahasiswa yang mencari bumil di desa-desa untuk mendampingi bumil agar bumil tersebut bersalinnya lancar dan selamat, pun juga dengan bayinya. Tapi karena salah satu mahasiswa tersebut yang omongannya nggak bisa dijaga, sang suami tidak menyukainya. Dan blablablabla, sang bumil dibawa ke layanan kesehatan terdekat. Sayangnya, nyawanya tidak dapat tertolong dan sang suami menyalahkan 3 mahasiswa tersebut.

20180505_180511_0049Foto bersama kabem fkm undip dan Mbak Ama

Sayangnya, waktu lumayan terlambat bin ngaret dari jadwal. 2 jam an loh ngaretnya. Omegat, ini entar kelar jam berapaaaa????
Sidang yang awalnya dijadwalkan dimulai pukul 16.00 malah dilaksanakan jam 7 malam lebih. Sidang dilaksanakan di Gedung Bundar. Lucu, ya namanya gedung bundar. Kukira apa, ternyata emang bundar bentuk di dalamnya (aula).

Serangkaian acara sidang dari sidang pleno sampai sidang komisi dilakukan. Sidang pleno 1 membahas dan menetapkan agenda acara, dilanjut sidang pleno 2 membahas dan menetapkan peraturan sidang, dilanjut sidang pleno 3 menetapkan presidium tetap 1, 2, dan 3. Kukira waktunya nggak akan lama dalam membahas dan menetapkan agenda acara dan peraturan sidang, mungkin lamanya di pemilihan presidium. Eh, semuanya lama juga ternyata. Setelah itu dilakukan sidang pleno 4 yang membahas tentang LPJ Korwil dan Pengwil tahun 2016/2017. Bahkan ini juga memakan waktu yang cukup lama. Ditengah pembahasan, atmosfir ruangan mendadak berubah. Hawa kantuk mulai terasa dan menular dari satu orang ke orang lainnya. Tidak diberi minuman dan minumannya ambil sendiri di luar padahal aku mager parah membuat rasa kantuk ini menjadi-jadi. Malahan teman disebelahku sudah tidur duluan. Entah bagaimana dengan yang ada di depan. Dan sidang pleno ke 5 membahas tentang demisioner korwil dan pengwil 2016/2017.

Daaaaaaaaaann akhirnya coffe break. Tapi entah kenapa tidak berpengaruh denganku. Aku memilih teh, bukan kopi, hehe. Setelah itu dilanjutkan sidang komisi yang membahas tentang rekomendasi muswil dan kriteria korwil. Sidang pleno 7 menetapkan kriteri korwil sampai sekitar jam 2.30 pagi. Daaaaaann akhirnya istirahat kembali ke kamar masing-masing sampai jam 7.30 pagi.

 

Minggu, 06-05-2018

Sidang dilanjut lagi pukul 7.30. Tak lupa sebelum itu aku membawa air minum sendiri dan cemilan Tango untuk menahan rasa kantuk dan agar maag ku tidak kambuh gara-gara kurang tidur. Sidang ke 8 ini membahas tenang AD/ART dan GBHO ISMKMI. Kemudian dilanjut penetapan korwil 3 ISMKMI selanjutnya. Ada 4 calon yang diajukan. Mbak Octa Undip, Mas Firman Unej, Mbak Neula Unair, dan Mas Affan Unair. Sebenarnya banyak universitas yang menginginkan Mas Affan menjadi korwil, tapi dari pihak Unair ingin Mbak Neula yang menjadi korwil. Setelah memaparkan visi misi, calon korwil diharap keluar agar peserta delegasi dapat memilih siapa yang menjadi korwil selanjutnya. Langkah awal adalah dengan musyawarah. Tetapi tidak didapat kesepakatan. Akhirnya dilanjut lobbying dan didapat Mas Affan lah yang maju menjadi korwil.

Huuuu syedih kaaan ūüė¶
Tapi mungkin inilah jalan yang terbaik.
Lalu dilakukanlah serah terima jabatan.

IMG20180506121250Congrats Mas Faaaann

Setelah itu kami dibagi-bagi berdasarkan daerah: Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTT, NTB untuk pemilihan Korda. Pemilihan ini juga dibarengi dengan oprec pengwil. Dan dari Jatim kami terpilih korda dari UNUSA. Wih keren, mantaaapp! Selanjutnya ada pengumuman dan penetapan pengwil, sumpah jabatan korwil dan pengwil 2018/2019, dilanjut dengan pembahasan Renstranas ISMKMI 2015-2019.
Pembahasan ini, kami dipisah-pisah, dicampur dengan universitas lain. Aku kebetulan satu kelompok dengan Mbak Ica dan membahas tentang Universal Coverage dan Anggaran Dana.

Lanjuuuuuuuttt
Sidang pleno 10 membahas tentang pemilihan dan penetapan tuan rumah muswil dan rapimwil kepengurusan baru. Dan terpilihlah tuan rumah muswil di Universitas Jember dan tuan rumah rapimwil di STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun. Waaah selamat dan semangat yaaaaaahh

Acara selanjutnya adalah penetapan Planning On Action, penetapan hasil muswil dan rakerwil tahun 2018 dan istirahat deeeeeeehhh. Hari ini entah bagaimana acaranya selesai lebih awal dari perkiraan.

 

Senin, 07-05-2018

Hari ini adalah hari perpisahan. Huhuhuu, sedih banget. Bakalan kangen sama teman-teman satu kamar. Delegasi dari Unair nggak ikut city tour karena keretanya berangkat jam 11.00. Jadi, yaaahhh city tour sendiri deh. Dan waktunya QTIME dengan kolega-kolegaaaa yeyyyy!! Kami dipesankan 3 ojek online oleh panitia karena panitia nggak ada yang bisa ngantar (dan dibayari oleh panitia). Tujuan kami adalah Lawang Sewu. Bangunan antik yang dibangun pada zaman Belanda ini dulunya adalah kantor¬†Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Dan sekarang dijadikan tempat wisata. Ada banyak barang peninggalan ketika bangunan ini dipakai kantor kereta api. Memang hawanya saat pertama kali menginjakkan ke dalam ruangan museum agak gimana gitu, ya. Apalagi ketika aku ditinggal sama teman-temanku yang ternyata sudah pindah ke ruangan lain :”( Padahal cuaca hari itu bagus sekali. sinar terik dan langit biru dengan sapuan awan cirrus dan beberapa awan cumulus.¬†

IMG20180507085310Cantik kan ya orangnya

Aku mengamati barang-barang lama yang dimuseumkan, dan aku menikmatinya. Rasanya ada kesenangan tersendiri ketika mengamati senti demi senti barang kuno. Ada kemarin itu ketika aku mengamati mesin ketik, tiba-tiba ada bayangan orang di belakang tapi saat kulihat, nggak adaa. Ya, mungkin ‘mereka’ pingin nemenin aku kali yak, soalnya sendirian ūüė¶ #lol
Ya, kami menyusuri Lawang Sewu dengan foto-foto di berbagai sudut. Kami juga bertemu dengan teman-teman dari UM, mereka ternyata juga city tour sendiri wkwk.
Kami juga ke lantai 2 untuk berfoto di sana. Tapi saat ingin menyebrang, eh ternyata jalannya di tutup. Hmm, yaudah deh. Akhirnya kami turun dan di jalan menuju keluar, kami menemukan tangga yang menuju suatu ruangan langit-langit. Tidak ada tulisan dilarang naik, ya, kami naik saja. Waktu mau sampai, eh, ternyata ada suara kelelawar melintas. Seketika kami kaget. Dan ternyata di sana juga ruangan kosong.

Di dekat pintu keluar gedung ada ruangan bawah tanah, gelap, dan isinya itu uang koin. Sewaktu zaman kolonial, lorong itu berfungsi sebagai tempat saluran air dan saat penjajahan Jepang dijadikan penjara jongkok. Penjara itu berukuran 1×1 meter dengan bak ukuran 0,5 meter, kemudian tahanan yang jumlahnya lebih dari 5 orang harus berimpitan masuk ke penjara itu. Para tahanan harus jongkok di dalamnya kemudian diberi air setinggi leher, lalu bak itu ditutup oleh teralis besi sampai mereka meninggal. Ngeri, ya?

Setelah puas, kami beristirahat sejenak di tangga dekat gerbang keluar. Kami kedatangan tamu, yaitu Mbak Friaaaaa. Kebetulan dia juga di Semarang di rumah neneknya. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh di Pangandaran. Aku pingin beli lumpia, tapi kenapa harga 1 bijinya 10ribu, cobaak ūüė¶ Syedih aku tuh yaaa…. Akhirnya aku membeli oleh-oleh lain yang menurutku itu pas di kantong anak rantau.

Dan akhirnyaaa waktunya pulaaang. Wah, gak kerasa juga ya. Kami memesan ojek online dengan tujuan Stasiun Poncol. Tapi driver yang mengantarku sungguh tidak menyenangkan. Dianya minta uang tambahan yang hampir 2x lipat harga semestinya.

Kami pun pulang ke Surabaya. Terlalu banyak hal yang dikenang dari Semarang, mulai dari acaranya, simpang limanya, makanan khas nya, lawang sewunya, tananan kotanya, sampai lippo mall nya.
Teruntuk kalian yang menyebut diri ‘kolega sampai surga’ terimakasih banyak ūüôā
Salam kolega (pakai jari kayak telpon)

lawangsewu_180511_0115    lawangsewu_180511_0123 lawangsewu_180511_0155

 

sumber :
https://news.detik.com/berita/2786242/misteri-lorong-bawah-tanah-lawang-sewu-konon-jadi-penghubung-gedung-tua-di-semarang
https://id.wikipedia.org/wiki/Lawang_Sewu

Advertisements
Posted in Uncategorized

Senja

Sinar matahari saat senja begitu memesona. Siapapun pasti terpana dengan keindahan senja. Cahaya kuning kemerahaan atau merah kekuningan seolah-olah menenangkan jiwa raga. Sayang, waktunya tidak lama, bahkan tidak sampai satu jam. Hanya berlangsung beberapa menit, tapi sungguh berarti. Hati yang terluka seakan-akan sembuh, kesedihan seolah-olah hilang, masalah yang bertumpuk-tumpuk serasa ringan.

Seperti kamu.
Bagiku senja adalah kamu. Yang hadir di saat hati sudah terluka, sedih, dan masalah yang entah itu berarti atau tidak. Tapi sayangnya kamu hanya hadir sekejap, tidak lama. Bedanya bukan satu-dua jam. Tapi sebatas satu-dua bulan.

Senja hadir setiap hari untuk menebarkan senyum selamat tinggalnya. Sedih memang,  harus mengetahui dia akan pergi. Tapi aku bahagia jika aku bisa melihatnya besok dan seterusnya. Seperti kamu, aku senang jika aku bisa bercengkrama menghabiskan waktu istirahat bersamamu. Dan aku berharap, jika kita masih diizinkan betemu, mari kita tertawa dan membahas hal yang lucu, saling menasehati, berbagi ilmu.  Seperti waktu itu, yang sayangnya bukan saat senja. Tapi saat hujan siang hari.

Posted in Uncategorized

Keraguan yang Diragukan

 

Seringkali mereka bercerita kepadaku tentang masalah mereka, tentang perasaan mereka. Dan sebagai seorang teman, aku ya memberikan solusi, meskipun bukanlah solusi yang terbaik dan bagus. Tapi setidaknya, solusi itu yang aku tau.

Dari sekian banyak solusi yang aku katakan pada mereka, aku mulai ragu. Apakah yang aku katakan itu mereka pahami dan lakukan? Jika iya, alhamdulillah, jika tidak, ya sudahlah. Tapi aku mulai meragukan diriku sendiri. Apakah aku mampu melakukannya juga? Apakah aku mampu untuk mengatasi masalah-masalahku sendiri?

Nyatanya tidak untuk sekarang ini. Aku sangat butuh seseorang untuk bercerita, sandaran untuk beristirahat, dan penguat yang menyemangatiku. Ingin setiap saat aku menangis, tapi siapa yang akan menenangkan? Aku merasa lelah dan merasa sendiri setiap saat. Memang siapa yang peduli jika aku sendiri? Seolah diabaikan oleh sekitar, tapi hanya dibutuhkan jika hanya semenit-dua menit. Menit-menit lainnya? Diabaikan.

 

 

Posted in Uncategorized

Maret, Berakhirnya

Malam ini adalah malam keduabelasku di bulan Maret. Itu berarti tinggal beberapa hari lagi aku akan pergi. Musim di sini tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas. Kalau dilihat dari ilmu geografi yang kupelajari sewaktu SMP sih, bulan Maret bermusim hujan. Tapi, di beberapa tempat ada yang hujan, ada yang panas. Seperti emosi seorang gadis SMA yang alay saja. 

Maret.
Entah kenapa aku lebih sering memikirkan seseorang pergi. Aku melihat beberapa kecelakaan hari ini, saatn aku pergi ke tanah rantau. Bus yang terguling, truk yang saling bertabrakan, bahkan kendaraan yang tadi aku naiki juga hampir mengalami hal yang serupa bus malang itu. Sempat berpikir, yang akan pergi duluan siapa? Aku, atau mereka? Aku lebih merenung dan melihat ke luar jendela, meskipun aku hanya bisa melihat sebatas langit beserta awan yang berubah-ubah, menggantung. Aku tak menggubris apapun yang terjadi. Masa bodo, menurutku. Aku mencoba berimajinasi sebagaimana orang aneh berimajinasi.

Oh, lihat awan itu! Berubah-ubah bentuknya. Seketika aku membayangkan kalau itu berbentuk grey owl, beberapa menit kemudian berubah menjadi ombak. Di dekatnya ada bentuk hati yang tidak sempurna. Seakan-akan berubah menjadi serpihan debu, lalu berkumpul dengan sesama serpihan menjadi ombak yang indah. Tapi hati itu mati, berlahan-lahan diganti menjadi kelabu. Lalu dilupakan.

Tapi,
Apakah, kalau aku yang pergi dulu, aku akan seperti hati yang menjadi serpihan itu? Dilupakan. Hah, dasar bodoh! Memang siapa yang mau mengingatmu? Kau tidak berarti apa-apa. Kau sering melukai orang, memang kau punya hati?
Sekelebat awan kelabu saja bisa menghapus semua. Bagaimana dengan waktu yang terus melekat? Pasti dia sudah lihai mengambil alih.
Pada dasarnya, aku marah kepada mereka yang hadir. Mereka yang dekat, membagi suka dan duka, membagi cinta dan kasih, pergi satu persatu. Aku ditinggalkan. Dan aku marah kepada diriku yang tak bisa mencegah mereka untuk pergi. Kalau pun kepergian bisa ditukar, aku memilih pergi dulu, karena aku tidak akan merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan.

Posted in Uncategorized

Friends? We are Family!

Hello, folks! I am so sorry because I’m late to update my post. Actually, I am in a long holiday but a month ago I was in a place that made me busy, hehe. A month ago, I went to Pare untuk mengisi libur panjangku dan menghindari omelan mama di rumah. And fortunately, ada temenku yang¬†ngajak ke Pare. Ke ELLA. Yaudah de, sekalian. Hehe.

Pare. Kampung Inggris. Suasananya asri, orang-orangnya ramah, mungkin aku akan betah di sini. Ya, meskipun pada malam pertamanya aku mendapatkan masalah dan itu sangat tidak menyenangkan, tapi aku berharap aku bisa nyaman di sini, paling tidak sampai study-ku selesai.

IMG-20180102-WA0058

Foto di atas adalah teman-teman sekelasku, bersama tentor yang memakai baju hitam-oranye. Foto itu diambil ketika selesai corat-coret muka gara-gara salah/ tidak bisa menjawab saat tebak-tebakan vocab. Haha, seru sekali! Ada yang sampai belepotan mukanya gara-gara banyak yang salah vocab-nya, ada yang tidak kena sama sekali (yang ini pasti dia sangat pintar!). Aku? Pastilah kena! Untungnya cuma sedikit, tidak sampai belepotan.

IMG-20180103-WA0052

Foto ini diambil di studio foto. Ya, ini juga foto teman satu kelasku, meskipun tidak full team. Oiya, ada cerita dibalik foto di studio ini. Ceritanya adalah SEPEDAKU KETUKER!!! Dan seketika aku panik! Tapi akhirnya ketemu juga kok.

IMG-20180119-WA0025

Dan foto ini adalah foto¬†setelah¬†farewell party.¬†Foto tersebut adalah foto satu angkatan, yaitu ‘ELLA Fullday 73’. Sedikit, ya? Itu karena sudah banyak yang pulang duluan sebelum waktunya dan juga banyak yang tidak ikut¬†farewell party¬†karena (mungkin)¬†ada suatu kepentingan :”) Sedih sekali tidak bisa foto¬†full team.¬†

Aku sangat berterimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan teman-teman yang baik, peduli, asyik, dan membuatku betah selama di Pare. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tulis tentang mereka. Tidak akan ada habisnya aku menceritakan mereka. Yah, maybe di tulisanku yang lain. Hehe, see ya! And, enjoy this! 

 

Thank you so much my loves, I hope we can together like that one day ūüôā

 

Posted in Uncategorized

Aku Ingin Pulang (2)

Cahaya mentari menyapaku dengan malu-malu pagi ini. Yah, gimana mau nggak malu, wong  dia datang bersama awan kelabu. Hawa hari ini agak dingin. Sepertinya kota Surabaya ini sedang ditaburi beberapa kesejukan dari Sang Maha Pemberi Rezeki.

Di lantai paling atas tempat kos ku, aku berdiri sambil memandangi awan yang dapat bergerak bermil-mil jauhnya. Aku sempat iri padanya. Mereka dapat berjalan-jalan mengelilingi dunia, sedangkan aku tidak. Mereka dapat pulang ke peraduannya, sedangkan aku tidak. Aku tetap di sini memikirkan bagaimana keadaan keluargaku di sana. Bahkan sekarang saja aku jarang sekali beradu dan menyaut kata dengan mereka. Aku benar-benar rindu senyum dan kasih sayang mereka. Aku tau kalau mereka selalu mendoakanku nun jauh di sana. Meskipun itu bentuk kasih sayang yang tak langsung, tapi kasih sayangnya menguatkanku sampai detik ini, maupun nanti.

Setiap hari ku memohon. Setiap hari ku berharap. Aku ingin pulang. Sudah berat rasa rinduku ini. Aku tak peduli apa kata orang yang katanya aku lemah atau mungkin mereka berkata, ‚Äúah, kamu ini. Liat aku, dong! Rumahku jauh di (beda provinsi) tapi aku ya b aja nggak kayak kamu. Dasar lebay!‚ÄĚ

I really don’t care how’s your feeling!

Yang jelas aku kangen rumah, kangen keluarga. Mungkin aku seperti anak kecil, tapi memang inilah aku. Aku nggak bisa jauh dari keluarga.

Ingin rasanya ku menangis. Meluapkan segala emosi yang menjadi beban hati ini. Meluapkan kekesalan yang menghantui. Agar rasa ini segera berkurang. Agar mereka mendengar bahwa aku merindukannya. Agar mereka tau bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.

Posted in journey, Uncategorized

Beda

Di dunia ini, tidak ada orang yang sama. Yang ada hanya orang yang hampir mirip, bukan sama. Manusia itu unik. Bahkan anak kembar yang identik saja punya beberapa perbedaan, entah itu fisik, psikis, watak, atau hal lainnya, meskipun seperti bulan yang terbelah menjadi dua.

Saat ini, angin berhembus dengan santai tetapi sangat dingin. Beberapa pohon di bawah sana tampak kegirangan dengan angin yang membawa kesejukan, karena setelah berhari-hari kemarin tak ada angin tak ada hujan. Yang ada hanyalah terik panas matahari. Imajinasiku mulai bermain dan tiba-tiba saja lamunanku buyar lantaran aku mengingat dirinya. Astaghfirullah. Kenapa harus sekarang? Aku malas sekali memikirkannya yang kian lama kian terlihat bersinar tetapi jauh. Dan aku hanya bisa mengagumi akan sinarnya.

Dia hebat, ya. Berwibawa, indah, positif, semangat, tegas, keren. Sedangkan aku? Aku hanyalah makhluk kecil yang selalu negatif, lemah, tak bisa berbuat apa-apa, penakut, plin-plan, nggak keren sama sekali. Kata orang, jika ingin menyukai seseorang, terlihatlah bahwa kamu punya kemampuan yang setingkat dengannya, atau lebih. Dari situ lah aku berusaha untuk menyejajarkan kemampuanku dengan kemampuannya yang sangat jauh dariku. Aku mengikuti beberapa jalan yang pernah kau lalui. Bukannya aku seorang stalker, loh yaaaa… Karena waktu itu aku tak tau harus melakukan apa, maka aku ingin mengikuti apa yang pernah dilaluinya. Anggap saja kalau dia adalah inspirasiku.

Lain dia lain pula aku. Rasanya aku tak cocok mengikuti jalannya meskipun jalannya akan membawa dampak yang sangat besar padaku dan itu sangat baik juga. Tapi rasanya aneh sekali ketika meniatkan sesuatu karena seseorang, bukan karena Allah. Rasanya seperti tak berimbas padaku dan hanya mendapat kelelahan dan buang-buang waktu saja. Ingin rasanya aku kabur lalu kembali pulang ke peraduan. Tapi aku nggak bisa. Aku teringat kata-kata ibuku bahwa untuk tidak lari dari masalah dan aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku sendiri.